Masih Jauh Perjalanan Indonesia Menuju "Cashless Society"

Sudah menyimak video tentang pengendara mobil yang menolak bayar pakai e-money di tol? Video yang viral itu menjadi perbincangan dan perdebatan tentang pemberlakuan wajib bayar tol secara non tunai, alias pakai e-money, alias pakai e-toll.

Singkat cerita, di video tersebut, si pengemudi berdebat dengan petugas tol karena uang dia ditolak oleh petugas. Alasan petugas, karena harus pakai kartu e-toll.

Rekaman perdebatan itu akhirnya jadi viral, dan seperti biasa pasti ada yang pro dan kontra.

Menurut pengamatan penulis, lebih banyak yang kontra dengan si pengemudi alias menyalahkan si pengemudi yang seakan-akan cari masalah. Kebanyakan nonton drama kali ya. Yang kontra ini rata-rata tidak memandang cara bayar non tunai sebagai masalah. Ikuti saja peraturan yang ada, begitu.

Yang pro ada juga. Selain sedikit yang fokus pada permasalahan boleh tidaknya pakai tunai, lebih banyak lagi yang melebarkan permasalahan. Membahas potongan yang diduga merugikan konsumen, membahas mengapa jalan tol pun macet seperti jalan non tol, misalnya.

Tapi biarlah, yang mau drama silakan saja main drama. Buat yang kepo soal drama ini, silakan kunjungi Kumparan yang dengan lengkap menyediakan transkip perdebatan antara pengemudi dengan petugas jalan tol.

Kita fokus soal pembayaran non tunai.

Di berbagai negara, sudah lazim istilah "cashless society".

"Cashless society" adalah masyarakat yang dalam transaksi keuangannya tidak lagi menggunakan uang tunai, tetap sudah dalam bentuk digital yang umumnya berbentuk kartu, misalnya kartu kredit, kartu debit atau ya seperti contoh drama di atas: e-money.

Banyak negara yang mendukung terwujudnya "cashless society" ini.

Di Inggris, survey oleh perusahaan teknologi pembayaran Square, mengungkap bahwa satu dari enam orang di sana, sehari-hari tidak menggunakan uang tunai sama sekali, dan 38% mendefinisikan diri mereka sebagai "card-first" shoppers. Alias kalau mau belanja, mengutamakan bayar pakai kartu dulu ketimbang tunai.

Swedia berambisi menjadi negara pertama yang bebas tunai alias menjadi "cashless society". Di Swedia, membeli koran atau sepotong permen pun, sudah lazim memakai non tunai.

Tak perlu kita jauh-jauh ke Eropa. Cina pun termasuk maju dalam hal perwujudan "cashless society".

Pengemis di Cina menyediakan QR Code bagi yang tidak punya uang tunai. Sumber: Huffington Post
WeChat, yang di Indonesia dikenal sebagai media chat saja, di Cina terkenal sebagai salah satu metode pembayaran dengan menggunakan QR Code untuk setiap transaksi. Bahkan, sempat viral video tentang pengemis yang menyediakan metode pembayaran denga QR Code sehingga tak ada alasan lagi untuk tidak memberi sumbangan!

Dan masih banyak contoh negara-negara lain yang seperti bergegas mempercepat terwujudnya "cashless society" seperti Amerika Serikat, Belanda, Jepang, Jerman, Perancis, Belgia, Spanyol, Cekoslovakia, India dan Brazil.

Secara singkat, pro dan kontra tentang "cashless society" bisa dirumuskan sebagai berikut:

  • Pro "Cashless Society": Meningkatkan cakupan kebijakan moneter (karena semua transaksi digital dengan mudah bisa dilacak), mengurangi penghindaran pajak, kejahatan dan korupsi lebih sedikit (jambret bakalan susah, kecuali hacker yang bisa menjebol rekening seseorang), menghemat biaya pembuatan uang tunai, dan mempercepat modernisasi warga negara.
  • Kontra "Cashless Society": Berpotensi melanggar privasi, meningkatkan resiko pelanggaran keamanan pribadi dan nasional berskala besar, dan ketergantungan pada teknologi. 
Penerapan non-tunai di Indonesia sebenarnya sudah mulai secara bertahap. Tanggal 14 Agustus 2014, Bank Indonesia telah mencanangkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT).

Perwujudan "cashless society" di Indonesia memang dimulai dari kota-kota besar seperti Jakarta, yang diharapkan akan bisa menular ke daerah. Penerapan yang sejalan dengan GNNT ini misalnya:
  • Pewajiban tol menggunakan e-money.
  • Pewajiban commuter line di Jakarta menggunakan KTM & THB yang bisa diisi ulang, tidak seperti di masa lalu di mana penumpang cukup membeli tiket sekali pakai.
  • KJP (Kartu Jakarta Pintar) di jaman Ahok yang (semestinya) hanya bisa dipakai untuk membeli kebutuhan sekolah dengan menggesek kartu.
  • Penggunaan e-money di Lenggang Jakarta, Monas. Dengan demikian, pemerintah DKI bisa melacak besarnya transaksi setiap pedagang setiap saat.
  • "Dompet non tunai" yang digunakan sebagai metode pembayaran transportasi online, sehingga penumpang cukup mengisi saldo lewat ATM atau tempat lain yang dimungkinkan dan tidak usah repot membawa uang tunai kemana-mana.
"Cashless society" mungkin tidak akan bisa terwujud 100% karena ada kemungkinan uang tunai tetap diperlukan. Karena itu, banyak yang mendukung gerakan "less cash society" alias mengurangi penggunaan uang tunai, bukan meniadakan.

Tentu saja baik "cashless society" maupun "less cash society" baru akan terwujud apabila masyarakat negara tersebut sudah siap, regulasi sudah mendukung, dan teknologi pun sudah mumpuni.

Kalau kamu, memilih yang pro "cashless society" atau yang kontra dengan "cashless society"?
Masih Jauh Perjalanan Indonesia Menuju "Cashless Society" Masih Jauh Perjalanan Indonesia Menuju "Cashless Society" Reviewed by Suzana Widiastuti on Oktober 04, 2017 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.